Selasa, 27 Desember 2011

Mengatasi Korupsi


09.02 |

Gerand
Berbicara tentang korupsi tidak akan ada habisnya. Tidak perlu heran, korupsi sudah menjadi tradisi atau budaya yang akan sulit dihapus. Karena telah menjadi semacam sifat genetik dalam diri manusia itu sendiri dan akan terus berulang. Kita memerlukan peredam untuk mematahkan gerakan masif tindakan korupsi agar efeknya tidak meluas dan peredam yang ampuh ada pada diri kita sendiri. 

Marah, geram itulah yang ada dalam hati kita, saat mendengar korupsi semakin merajalela. Sejak reformasi, gendang telah ditabuh sebagai bertanda perang terhadap korupsi. Itu berarti peperangan melawan korupsi secara intens telah lebih satu dekade, alhasil korupsi bukan malah surut tapi malah menjamur. Semakin keras diperangi koruptor makin tiada takutnya. Meski suara-suara lantang menderu-deru terdengar dari para pemimpin negeri dan suara parlemen jalanan bah desingan mesin-mesin peluru tidak juga membuat nyali para koruptor menjadi ciut.

Berbicara tentang korupsi, memang tidak akan ada habisnya. Barangkali umur korupsi itu sendiri, sudah setua sejak manusia ada dimuka bumi ini. Seandainya usia korupsi sedemikian tuanya, maka tidak perlu heran, korupsi sudah menjadi tradisi atau budaya yang akan sulit dihapus. Karena telah menjadi semacam sifat genetik dalam diri manusia itu sendiri dan akan terus berulang.

Sesungguhnya apakah yang memotivasi manusia itu sendiri untuk melakukan korupsi. Banyak hal, karena pada dasarnya manusia memiliki keinginan dan kebutuhan. Selain itu, banyak simpul-simpul lain yang mendorong manusia itu untuk melakukan korupsi. Ingin kaya, dihormati, dan tidak kekurangan dalam segala hal apapun. Jika saat ini korupsi marak terjadi di lingkungan birokrasi itu sendiri, karena ada masalah mekanisme yang tidak bekerja dengan baik dalam sistem, lengahnya pengawasan. Seperti saat ini, korupsi dilakukan tidak hanya perorangan tapi sudah berjamaah. Itu berarti lingkungan juga turut mempengaruhi akan semakin meningkatnya tindakan korupsi.

Dan yang paling menyedihkan, generasi muda yang menjadi tumpuan harapan, menjadi tameng di garda depan untuk memutuskan rantai korupsi, tidak mau kalah dari seniornya, masih jauh dari harapan. Pusat Penelitian dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) merilis 50 persen pegawai negeri sipil (PNS) muda kaya terindikasi korupsi (DetikNews 09/12/2011). Sepertinya regenerasi koruptor masih akan terus berlanjut. Semoga saja para penegak hukum yang kredibel tidak menjadi lengah dan kehabisan mesiu-mesiu untuk memupus manusia-manusia koruptor ini.

Dilihat dari sisi manapun, baik hukum, agama, sosial korupsi selalu menyisakan hal yang tidak enak karena telah merampas hak banyak orang yang membuat rakyat semakin menderita. Dari segi penegakan hukum, meski hukum sendiri telah memberikan konsukuensi hukuman yang berat, korupsi tetap merajalela. Di lihat dari sisi norma agama, sebenarnya kurang apalagi ajaran-ajaran yang telah disampaikan para pendeta, ulama kepada umatnya untuk berbuat yang terbaik dalam hidup ini, agar tidak merampas ataupun menginginkan hak-hak orang lain. Hancurnya, justru yang kelihatan taat beribadah adalah pelaku berat yang sangat hebat. Hebatnya di tengah-tengah masyarakat para koruptor ini juga yang menjadi sang pahlawan dermawan.

Segala cara telah ditempuh untuk mencegah perbuatan korupsi, baik secara hukum. Melalui himbauan-himbauan di mimbar-mimbar umum bahkan di rumah-rumah ibadah. Di rumah ibadah misalnya seruan untuk memerangi korupsi frekuensinya perlu ditingkatkan, masih ada ketabuan untuk membicarakan hal tersebut, belum disampaikan secara substansial. Seharusnya rumah peribadatan inilah menjadi pintu terakhir untuk selalu mengingatkan secara berulang-ulang untuk menangkal korupsi ini.

Kita memerlukan peredam (softbreaker) untuk mematahkan gerakan masif tindakan korupsi agar efek yang ditimbulkannya tidak semakin meluas. Dan peredam yang ampuh hanya ada dalam diri kita sendiri. Karena korupsi sudah seperti genetik dalam diri manusia maka korupsi tidak akan bisa dihapus, tapi bisa diredam. Salah satunya berpaling pada diri kita masing-masing dengan meningkatkan pola hidup sederhana, mencukupkan diri dengan apa yang ada.

Selain itu, kita harus menjadi alarm bagi orang lain, saling mengingatkan, bahwa korupsi itu adalah tindakan yang tidak terpuji. Dan jangan jauh-jauh, kita mulai dari kelompok kecil, mulai dari rumah atau keluarga kita. Mudahan-mudahan itu membawa efek besar setelah kita keluar dari rumah kita untuk meredam segala gerak-gerik korupsi.

Sebagai manusia yang memiliki pengharapan, saya percaya kita malu disebut sebagai orang yang tidak beriman. Jika begitu, kita semua adalah orang ber-iman, adalah manusiawi kita sering diselimuti rasa khawatir tapi janganlah sampai mendorong kita bertindak, tidak pada jalurnya untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak tepat. Kata bijak mengatakan, kesusahan sehari cukuplah hanya untuk sehari. Ini berarti hari-hari memiliki kecukupannya sendiri. Asal ada pakaian dan makanan cukuplah. Jangan menimbun kekayaan. Sebab itu, tidak akan kita bawa mati.



Baca juga artikel yang berhubungan: