suarasurabaya.net| Oleh: TRISNO KUMARI, S.Sos
Juni 2008…
Sama seperti bulan yang lalu. Hari-hari di bulan ini terasa sangat
panjang dan membosankan. Setiap hari aku habiskan dengan antrean mandi
dan antrean makan. Menghitung hari demi hari melalui coretan-coretan di
catatan buku harianku yang sudah mulai sobek sampul depannya akibat
tertindih kepalaku saat tidur.
Yah…buku catatan hariankulah yang telah menemani 303 hari melelahkanku.
Hari yang panjang dan membosankan bagi semua penghuni lapas Medaeng.
Siang itu aku sengaja tidak ikut sholat Jum’at yang diadakan di Masjid
yang orang bilang sebagai masjidnya para kriminil. Sedari pagi aku sudah
mengalami rasa malas yang luar biasa. Aku tidak antre mandi, aku juga
tidak antre makan, aku juga tidak hendak bangun dari tikar pemberian
istriku pada saat pertama kali aku dijebloskan dalam rumah tahanan yang
memuakkan ini.
Yah…rumah tahanan yang membuatku mual setiap kali mendengar namanya.
Rumah tahanan yang membuat aku kehilangan anak dan istriku. Sejak
pertama kali aku mendekam hingga saat ini, tak seorang pun anak maupun
isriku menjenguk. Malu, terhina, kecewa dan sederet beban selalu aku
sumpalkan kedalam hati untuk mencari sejumput alasan mengapa orang-orang
yang telah menikmati jerih payahku (orang bilang kejahatan) telah pergi
meninggalkan dan mencampakkanku dalam sel yang dingin.
Rasa bosan ini benar-benar telah mencekikku. Sejak semalam pikiranku
bergulung-gulung, membathin, mencari akal untuk meloloskan diri dari
lapas memuakkan ini. Tidak sedikitpun kegundahanku aku singgung dengan
Dicky, kawanku asal Medan, kala antrean mandi. Dengan para napi disini
aku lebih sering bungkam, atau setidaknya cukup melempar senyum manakala
membuka obrolan disaat mandi pagi. Hanya kepada Dicky aku mau berbagi
sedikit cerita asal muasal aku terdampar di rumah pesakitan ini.
Terkadang jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya aku berikan hanya
sepatah dua patah kata-kata.
Seperti biasanya sore ini aku habiskan kembali dengan tiduran di lantai
selku yang retak-retak. Tak ada yang ingin aku lakukan. Bahkan aku tidak
berpikir untuk melakukan apapun. Biarlah satu hari ini aku lalui dengan
tidur.Yah…aku berharap dapat tertidur dengan lelap, tidur yang tidak
dapat terbangunkan. Bagiku tidur panjang adalah jalan terbaik agar aku
dapat melupakan semua kegetiran yang mengawali perjalananku terdampar di
blok tahanan khusus koruptor. Tapi berkali-kali tubuhku aku
bolak-balikkan, yang ada justru pikiranku melayang kembali ke bayangan
masa silam.
Ya… Aku seorang koruptor. Orang bilang aku adalah penjahat yang memakan
harta rakyat. Orang bilang koruptor lebih kejam dari pembunuh yang
menghisap darah dan memakan tubuh korbannya. Tapi bagiku, apa yang aku
lakukan hanyalah untuk menyenangkan istri dan anakku. Aku berharap
dengan limpahan harta mereka dapat menerimaku sebagai ayah yang sukses.
Seorang ayah yang memiliki gengsi karena berstatus sebagai anggota dewan
yang terhormat.
Seminggu setelah kiriman Roll Royce dari seorang pengusaha wanita paling
terkenal di kota Surabaya, aku digiring ke kursi pesakitan, dengan
tuduhan menerima suap untuk pelolosan kasus pemalsuan surat izin
pengangkutan tanker minyak keluar negeri. Semula aku menolak tuduhan
yang disampaikan oleh jaksa penuntut, namun bukti-bukti yang diajukan
dipengadilan membuatku tidak berkutik.
Juli 2008…
Coretan-coretan dalam buku harianku semakin tidak beraturan. Setiap aku tulis sesuatu, yang ada hanya kalimat aku…aku..dan aku.
Satu.., dua…, tiga.. tak terasa hampir delapan belas hari aku tidak mencatatkan sesuatu pada buku harian usangku.
Sampai suatu ketika aku merasa benci yang mengubun-ubun. Yah…aku benci
dengan sel ini, aku benci dengan Sodik sipir penjara yang tidak mau aku
suap untuk memberi informasi kedatangan pejabat negara, yang selama ini
menjadi rekanan bisnis pengusaha wanita, orang yang telah mengirimi aku
mobil mewah bedebah itu. Aku benci pada Dicky si tolol, Pencuri tengik,
yang bisanya hanya mencuri burung beo dirumah seorang dokter bedah
terkenal. Aku juga benci pada istriku. Istri rakus, demi gelimangan
harta rela menjerumuskan suami yang menikahinya dengan sepenuh hati. Aku
juga benci pada anakku yang katanya malu karena ayahnya dijebloskan
kedalam penjara.
Segala limpahan materi yang aku berikan seolah musnah, bagaikan uap air
di udara. Dan yang paling menyedihkan aku benci pada diriku sendiri.
“aku benci pada semua kebodohanku…!”
“aku benci pada semua orang…!”
“ aku benci…!!”
“aku muaakk!!!”
“Dasar perempuan mata duitan…!”
“Dasar anak kurang ajar…!” Segala sumpah serapah terjejal menyumpal mulutku.
Brakkk…!!!Tanpa sadar aku menghantam dinding sel tahananku yang catnya hampir terkelupas semua.
Orang bilang menunggu adalah sesuatu yang menjemukan. Tapi disini
orang-orang hanya bisa meratapi nasib dan berharap keringanan sampai
akhirnya tiket menghirup udara bebas diperoleh. Menunggu memang
menjemukan dan aku bukan orang yang ingin menunggu.
“Aku harus menjemput kemerdekaanku!”.
“ Aku harus meraih kebebasanku!”
“ Dan aku akan menerobos dinding sialan ini!”
Segala sumpah serapah menyembur dari mulut yang dulu setiap hari aku
jelali dengan rokok merek terkenal hasil suatu akuisisi perusahaan milik
Phlilip Morris.
Hari ini aku berencana mengelabui petugas piket dengan berpura-pura
sakit. Dalam rencanaku saat mereka lengah dalam ambulance, aku akan
mencari celah meloloskan diri dengan mencuri kunci borgol dan
melumpuhkan petugas yang ada dalam mobil dengan sirine meraung-raung
ini. Bagiku apapun yang terjadi aku harus siap dengan segala resikonya.
Hampir saja aku dibuat terkejut saat ramai orang -orang berteriak dalam
sel mereka. Ada yang berteriak dengan sumpah serapahnya, ada yang
membuat gaduh dengan memukul diding sel dengan apapun yang mereka
miliki. Seroang sipir nampak tergopoh-gopoh mendatangi salah satu sel
yang menjadi biang keributan dipagi ini. Dengan wajah bersungut-sungut
ia membuka pintu sel dan mendapati seorang laki-laki telah gantung diri.
Saat tubuh laki-laki itu dikeluarkan melewati selku, aku mengenalnya.
Ya…Dicky rekanku bicara dikala mandi, tewas gantung diri. Pikiranku
membathin jika aku lama-lama disini, aku bisa gila, bisa-bisa aku akan
mengalami nasib yang sama dengan Dicky.
Agustus 2008…
Entah kenapa sudah berkali-kali aku bertekad meloloskan diri, namun
selalu ada saja hal yang mengurungkan niatku. Praktis saat ini aku hanya
bisa berkomunikasi dengan catatan buku harianku. Seolah aku sanggup
menumpahkan seluruh isi hatiku pada buku jelek ini, Demikian ejek
Dicky, ketika aku sampaikan satu-satunya kawan curhatku adalah
catatan-catatan dalam buku harianku. Catatan inilah yang membuatku
tetap merasa tidak muak.
Hampir pertengahan Agustus aku masih bertahan dengan sel dinginku ini.
Orang bilang bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan, tapi bagiku
kemerdekaan adalah keluar dari penjara musibah ini. Penjara yang
membuatku setiap hari berpikir bagaimana cara meloloskan diri. Tidak ada
yang terjejali dalam pikiranku kecuali pertanyaan bagaimana cara
meoloskan diri dari penjara sempit ini. Orang bilang inilah sifat para
koruptor, licin, busuk dan kotor. Mental selalu ingin meloloskan diri
dengan suap dan kelicikan.
Tiga hari ini aku semakin merasa resah. Orang bilang sebentar lagi akan
memasuki bulan Ramadhan. Pikiranku berkelana, membabi buta untuk segera
mengakhiri penderitaan ini. Semalam aku hendak berencana menguatkan
cara-cara meloloskan diri. Aku sudah mempelajari setiap detail rutinitas
hotel prodeo yang membuatku hampir gila.
Sampai kemudian di pagi ini, Sodik, sipir penjara yang aku muak melihat
tampangnya mendatangiku. Wajahnya yang jelek membuatku semakin jengah
melihatnya.
“ Keluar! Ada tamu yang mengunjungimu!” lantang, tanpa basa-basi seperti yang biasa ia lakukan pada penghuni sel lain.
Dengan beringsut aku menuruti kata-katanya. Sembari berjalan di belakang
tubuhnya yang gempal, kembali aku membathin siapa pula yang sudi
mengunjungi bekas orang ‘terhormat’ini.
Sampai di ruang kunjungan para napi yang berada di ujung koridor kanan gedung, aku menemukan sosok yang aku kenali.
Ya… Nurjannah, adikku yang memutuskan menikah dengan seorang petani dari
sebuah desa di Blora, Jawa tengah. Yang karena keputusannya menolak
untuk kuperintahkan menikah dengan pengusaha property, yang juga pernah
melunaskan hutang-hutangku dalam menyuap beberapa rekanan di ruang
dewan. Adikku yang aku usir karena memalukkanku sebagai anggota dewan
terhormat karena memiliki saudara ipar seorang petani miskin.
“ Assalamu’alaikum…”. Salam yang baru pertama kali aku dengar dari orang
lain untukku selama di hotel prodeo, kawasan yang orang mendengar
namanya saja sudah merasa sinis.
“ wa-a..a-a..la-ikum…sa-lam “ terbata-bata jawabku dengan gugup
“ Bagaimana mas kabarmu disini? Maaf aku baru mendengar kabarmu, setelah
sekian lama kita tidak berjumpa” ujarnya meneruskan pembicaraan
“ Aku baik-baik saja Nur..!, hanya aku merasa sudah bosan”. Jawabku
sambil menundukkan kepala karena malu. Entahlah dalam hati aku
senantiasa merasa segan dengan adikku satu ini. Dan sesungguhnya yang
membuatku berkecil hati adalah hampir aku tidak memiliki hubungan yang
baik dengan kedua orangtuaku maupun adikku.
“ Mas, aku disini ingin menyampaikan kabar kalau ibu dan bapak telah
berpulang lima bulan yang lalu, sementara aku mencari rumahmu yang dulu,
aku mendapatkan kabar kalau Mas Wahid telah berpindah dan mendekam di
penjara ini” ucap adikku dengan mata berkaca-kaca.
“ Istrimu telah menikah lagi dengan orang lain, sementara anakmu Toni
meninggal karena narkoba, aku tahu hal ini dari mbok nah, bekas pembantu
di rumah Mas Wahid”. Kembali adikku mengatakan hal yang mengiris
hatiku.
“ Aku berharap, Mas Wahid dapat segera keluar, segera bertaubat, memohon
ampunan pada Gusti Allah, syukur kalau ada kesempatan Mas Wahid bisa
ziarah ke makam ibu, bapak dan anak Sampeyan”. Nasihat adikku dengan
lembut.
Kali ini kalimat yang diucapkan adikku meledakkan segenap kesombonganku.
Bertaubat…ya…bertaubat. Kata-kata yang menghancur lumatkan keinginanku
untuk terus-menerus memikirkan cara meloloskan diri dari penjara ini.
Bertaubat yang akan membuatku bertahan dari rasa ingin merdeka. Bagiku
buat apa merdeka kalau harus merampas hak-hak orang lain, buat apa bebas
kalau harus menyebabkan kemiskinan orang lain, buat apa hidup
bergelimang harta kalau tidak bahagia. Tidak bahagia karena kehilangan
semua orang yang dicintainya. Tidak bahagia karena menyiksa diri sendiri
dengan belenggu syahwat dan nafsu menguasai dunia.
Ramadhan 2008…
Aku sudah memutuskan untuk tetap tinggal di hotel Prodeo ini. Tempat
yang dulu aku mati-matian untuk meninggalkannya telah aku pilih sebagai
tempat tinggal yang baru. Menuju menjadi manusia yang baru. Tak terasa
airmataku meleleh. Sebagai laki-laki aku pantang menangis. Tapi kali ini
aku menangisi dosa-dosaku yang sudah sangat mengerikan.
“Duh Gusti…Ampuni segala dosa-dosa ini dengan lautan maafMu”.
“Terimakasih ya Allah, terima kasih Nurjannah, kamu adalah cahaya surga
bagiku”. Ujarku lirih dalam hati.(*Penulis adalah Ketua Aliansi Penulis
Pro Syariah Jawa Timur).(ipg)