Safari Ans
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pernah
menyebutkan bahwa Departemen Agama (Depag) sebagai departemen yang
paling tinggi angka korupsinya. Tetapi anehnya, para pelakunya tak
pernah ditangkap apalagi diadili. Yang terjerat hukum hanya kasus
korupsi kecil-kecil ditingkat Kanwil. Sedangkan data yang diungkapkan
oleh BPK lebih menyorot temuan di tingkat pusat, berselubung Dana Abadi
Ummat. Yang paling aneh lagi, Depag segera membuat kerjasama dengan KPK
untuk membuat jaring pemberantasan korupsi di lingkungan Depag.
Menurut sebuah sumber yang dapat dipercaya, dia berhasil merekam
pertemuan dengan pemuda bernama Kusuma Indrajaya (KI) berdarah Betawi.
Ia menjadi suplayer terbesar Depag ketika yang menjabat menteri agamanya
Said Agil Al-Munawar. Ada lagi pensiunan Depag yang pernah menjabat
Kakanwil Depag DKI Jakarta juga berkisah; kemana Menag itu pergi disitu
pasti ada KI. Bahkan KI dipercaya untuk mengatur beberapa transaksi uang
titipan para pejabat Depag hingga dia menghilang sejak 2007.
Tak tanggung-tanggung, uang pejabat Depag yang tersimpan di Bank Amex
Cabang Jakarta Kuningan itu mencapai lebih dari Rp 58 trilyun. Benarkah?
Setidaknya kita bisa menyimak rekaman percakapan narasumber itu yang
kemudian diubahnya dalam bentuk audio video. Klik Depag.
Bahkan seorang PNS di Walikota Jakarta Selatan, Adnan Darsono sebelum
meninggal sempat bersaksi di sebuah kamera bahwa dia menyaksikan
transaksi yang dilakukan oleh KI. Konon kabarnya Adnan Darsono yang saat
itu menjadi Kabag Kesra di Kantor Walikota Jakarta Selatan kena
serangan jantung, ketika tau bahwa KI telah menjebaknya dalam transaksi
ini. Klik Kesaksin Adnan Darsono.
Narasumber yang berhasil penulis temui mengatakan, bahwa dirinya masih
memiliki bukti rekaman audio video yang siap tayang di televisi. Semua
rekaman itu merupakan saksi atas proses transaksi penyimpanan uang
pejabat Depag. Sukses pencairan di Bank Amex Jakarta, kemudian uang
tersebut dipindahkan ke Standard Chartered Jakarta atas nama berbagai
pihak, utamanya atas nama yayasan-yayasan keagamaan.
Narasumber itu bercerita, ia menyaksikan kesibukan KI bersama seorang
kepercayaan mantan Pejabat Depag menukarkan USD di beberapa Money
Changer di Jakarta setiap hari dalam beberapa bulan. USD ini menurutnya
beraasal dari sedekahan Garuda Indonesia setiap kali penyelenggaraan
ibadah haji. KI dan rekannya biasa membawa USD dalam cover dari Arab
Saudi menggunakan pesawat Garuda. Bahkan brankas rahasia di bekas kantor
Depag yang lama di Jalan Thamrin pun dibongkar jelang akhir 2007,
ketika tranbsaksi ini sudah banyak yang bocor.
Sumber pendanaan lainnya, menurut sumber tadi, berasal dari hibah
Islamic Development Bank (IDB). Nilainya Fantastis, ratusan trilyun
rupiah. Oleh IDB, menurut sumber itu merupakan hibab untuk membantu
Indonesia dalam pengatasi krisis ekonomi tahun 1986-1987. Dana ini
berhasil dibawa ke Indonesia ketika Gus Dur menjadi Presiden, tapi
agaknya Gus Dur tidak tau. Dan itu belum seberapa. Mereka juga menyimpan
uangnya di Jerman, Australia dan Jepang yang dilakukan oleh mantan
pejabat Inspektorat Depag. Mantan Pejabat Depag ini meminta perlindungan
kepada oknum petinggi militer ketika itu (kini mereka sudah pensiun).
Tapi anehnya menurut sumber tadi, semua bantuan atau hibab IDB ini oleh
para Kiyai yang terlibat dianggap sebagai ghonimah (pampasan perang),
sehingga menjadi halal. Di situ disebutkan ada tujuh Kiyai besar ikut
menikmati kue hibah ini.
Machtub Basyuni ketika masih menjabat sebagai Menteri Agama sempat
dikonfirmasi penulis di kantornya awal 2008. Ia didampingi Sekjen Depag
mendengarkan informasi yang penulis sampaikan. Anehnya, bukannya Menag
itu mengejar informasi yang saya sampaikan malah mengatakannya, tidak
mungkin. Tetapi, seorang pegawai Bank Amex Jakarta yang berposisi
penting mengatakan kepada rekan penulis, membenarkan adanya dana para
pejabat di bank tersebut, malah meminta agar sumber tadi tidak
membicarakannya. Sebab masih menurut pejabat penting bank itu, bahwa
dana tersebut milik pejabat tinggi. “Ngeri Mas, kalau kita bicarakan
akan membuah gaduh negeri ini,” ungkap narasumber yang berhasil
menyelinap ke bank tersebut.
Anehnya, dana besar ini kemudian banyak juga digunakan untuk keperluan
Pemilu 2009, termasuk di dalamnya pembentukan partai-partai baru. Bahkan
menurut rekaman KI, Menag ketika itu mengumpulkan para Kiyai di hotel
Gran Melia Kuningan Jakarta yang secara khusus membahas tentang
pembagian dana hibah ini. Seorang Kiyai yang berhasil penulis konfirmasi
membenarkan pertemuan tersebut, tetapi Menag ketika penulis wawancara
sebelum masuk ruang sidang di Istana Negara awal 2008, membantahnya
malah nmarah-marah sama penbulis.
Apapun soal cerita, menurut penulis harus dituntaskan. Sebab bagaimana
negara mau benar, bagaimana negara mau makmur kalau Ulama (Kiyai) dan
Umara (pemimpin) dan sudah menganggap yang salah menjadi benar. Mumpung
Presiden SBY sedang berantas mafia hukum, yuk ramai-ramai bongkar semua
kasus yang berhasil bersembunyi di balik mafia hukum ini. Siapa tau
kabar Korupsi Depag sebesar Rp 58 trlyun ini benar adanya. Salam saya.
Ia pendiri IFID (International Fund for
Indonesia Development) yang berkantor di Hong Kong. Berprofesi sebagai
jurnalis diawali di Harian Prioritas 1987, setelah dibredel Orde Baru,
ia bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi, ANTV, dan terakhir di Lativi
(kini TvOne) 2005. Karir jurnalistik dirintisnya semasa kuliah di UIN
Jakarta dan sempat aktif pada Himpunan Pers Mahasiswa Indonesia, sebelum
melanjutkan studi ke Pascasarjana Fikom Universitas Padjadjaran
Bandung.
dari: http://politik.kompasiana.com/2010/01/12/benarkah-korupsi-depag-rp-58-trilyun/