Tingkat pertumbuhan 6,1% 2010, pendapatan per kapita naik di atas 3,000 USD,
kok masih saja hidup kita susah? Pengangguran di mana2? Jawabannya ada pada
korupsi. Korupsi telah menghabiskan semuanya. Infrastruktur yg jelek, investor
sektor riil yg ogah masuk, terhambatnya proses ekonomi, terganggunya proses
pendidikan, hilangnya peluang ekonomi bagi rakyat kecil, dan lain sebagainya.
Korupsi dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu; petty corruption
(korupsi birokrasi), grand corruption (korupsi tingkat tinggi), dan political
corruption (korupsi politik).
Petty corruption adalah korupsi skala kecil. Korupsi birokrasi atau petty
corruption adalah korupsi harian yang terjadi dalam rangka akhir implementasi
dari politik, dimana pejabat publik bertemu dengan masyarakat. Petty corruption
adalah penyogokan dalam hubungannya dengan pelaksanaan hukum, peraturan dan
regulasi yang berlaku, yang oleh karena itu berbeda dengan grand corruption
atau political corruption. Petty corruption hanya melibatkan jumlah uang yang
kecil (pas-pasan), yang sering dinamakan juga sebagai korupsi tingkat jalanan
(tingkat rendahan), yang bisa saja terjadi pada hal-hal yang berhubungan dengan
administrasi dan jasa public seperti rumah sakit, sekolah, pegawai pemda,
polisi, pegawai pajak dan lain-lain.
Grand corruption atau korupsi tingkat tinggi terjadi pada formulasi akhir
kebijakan politik. Korupsi ini sudah melibatkan uang dalam jumlah yang lumayan
besar (walau tak sebesar korupsi politik): grand corruption terjadi pada level
tertinggi dari jabatan publik, dimana kebijakan-kebijakan dan
peraturan-peraturan diformulasikan. Biasanya, korupsi seperti ini sangat berkaitan
erat dengan korupsi politik.
Political corruption adalah transaksi apapun yang terjadi antara swasta dan
aktor-aktor pemerintah dimana kekayaan negara dengan tidak sah dikonversikan
menjadi kekayaan pribadi atau gaji yang dianggap datang dari pihak swasta
(private-regarding payoffs). Biasanya, political corruption selalu diidentikkan
dengan “grand” atau high level corruption, berbeda dengan korupsi birokrasi
atau petty corruption karena korupsi macam ini melibatkan pemegang keputusan
politik.
Political corruption tidak saja menyebabkan penyimpangan sumberdaya, tetapi
juga penyimpangan perilaku, dimana keputusan-keputusan dibuat.
Political corruption terjadi ketika hukum dan peraturan disalahgunakan,
disalahgunakan, dikesampingkan, diabaikan, atau bahkan disesuaikan agar oleh
penguasa agar sesuai dengan kepentingan mereka. Korupsi semacam ini terjadi
jika dasar-dasar hukum, dimana praktik-praktik korupsi biasanya dievaluasi dan
dihakimi, sangatlah lemah bahkan lebih jauh melemahkan kejujuran pemerintah.
Praktik-praktik yang biasa terjadi adalah seperti uang sumbangan yang digunakan
untuk mempengaruhi pemilih (bisa dalam pemilu masyarakat atau voting tingkat
DPR-MPR), penyebaran uang dan makanan untuk mempengaruhi pemilih, membeli kartu
pemilih agar dapat memastikan agar pemilih dari pihak lawan tidak memilih,
membeli para jurnalis untuk men-cover kandidat favorit, janji-janji palsu yang
ditujukan untuk mempengaruhi pilihan para pemilih (pada pemilu dan pilkada).
Korupsi di Indonesia
Mencermati kasus-kasus Gayus yang alih-alih dicari membongkar aktor-aktor
utamanya, malah lebih suka membahas kasus keluarnya Gayus dari penjara ke luar
negeri. Atau Kasus Soesno Duadji yang berakhir antiklimaks, kasus Antasari
Azhar yang serba janggal yang tak sedikitpun mengarah bahwa dirinya yang
membunuh Nasruddin, kasus Bibit Samat Rianto dan Chandra Hamzah yang dideponeer
dengan alasan banyak masyarakat (lewat facebook, dimana banyak sekali identitas
palsu di dalam media ini) yang membelanya, kasus Bank Century yang lebih tampak
sebagai dagelan ketimbang keseriusan. Maka, tak pelak lagi, Indonesia adalah
negara korup yang perlahan-lahan tenggelam bersama korupsi-korupsi yang secara
berjamaah dilakukan oleh aktor-aktor pemerintah dan wakil rakyat ini.
Dari hari ke hari kasus-kasus seperti inilah yang ada di media massa, baik
surat kabar maupun televisi. Tidak pernah masyarakat disuguhi dengan program
pembangunan yang terlaksana dengan baik, baik infrastruktur, ekonomi, politik,
pendidikan, maupun kesehatan. Jika pun ada, maka bisa dipastikan itu bukan
berasal dari pemerintah.
Ambil contoh DKI Jakarta, dari tahun ke tahun tak ada sedikitpun perbaikan yang
dilakukan pemerintah untuk menanggulangi banjir. Jika pun ada, tak ada dampak
yang signifikan. Ini seperti anak sakit muntaber diberi minyak angin saja
dengan alasan yang penting ada yang dilakukan untuk mengatasi masalah muntabers
si anak.
Juga program penanganan kemacetan. Gubernur yang pada saat
kampanye berkoar bahwa dialah ahlinya untuk mengatasi banjir dan macet,
sekarang malah mengatakan, “Siapa pun yang menjadi Gubernur akan mengalami hal
yang sama dan mengalami kemandekan pemikiran yang sama dengannya.” Coba kita
lihat bagaimana Pemda DKI membangun jalan layang Blok M-Antasari. Pemda butuh
waktu 2 tahun untuk menyelesaikan proyek tersebut. Padahal, BUMN asal China
menyelesaikan proyek MRT termasuk perkereta apian subway system dan monorel
untuk seluruh Iran hanya dalam waktu 1 tahun 8 bulan. Dari sini saja sudah bisa
dilihat, bahwa pak Gubernur jauh daripada ahli.
Coba kita lihat fakta di China. Tahun 2002, Cina merupakan negara di kawasan
Asia yang paling banyak menyedot investasi asing dengan nilai sekitar 50 miliar
dolar AS. Negeri tirai bambu tersebut saat ini merupakan negara yang sedang
tumbuh dengan cepat dan menjadi kekuataan ekonomi baru. Selama sepuluh tahun
terakhir, pertumbuhan ekonomi Cina dapat dipertahankan di atas rata-rata tujuh
persen. Apalagi dengan masuknya Cina ke dalam World Trade Organization (WTO)
pada 11 Desember 2001, diprediksi akan membuat perekonomian negara tersebut
semakin maju pesat.
Prestasi yang dicapai Cina merupakan buah dilaksanakannya program reformasi
ekonomi yang dimulai tahun 1978. Di mana, upaya memikat modal asing merupakan
aspek penting kebijakan reformasi ekonomi tersebut. Salah satu langkah yang
ditempuh guna mengundang investor menanamkan modalnya di negeri tersebut,
pemerintah Cina memprioritaskan pembangunan infrastruktur.
Pemerintah Cina menyadari infrastruktur ekonomi merupakan syarat utama dalam
membangun perekonomian. Sebab kalau hanya mengandalkan pada keunggulan
komparatif (misal tenaga kerja murah dan sumber daya alam melimpah), maka sulit
mengembangkan wilayah-wilayah potensial di Cina. Oleh karena itu pembangunan
infrastruktur seperti jalan raya, pelabuhan, irigasi, komunikasi, dan listrik
mendapat prioritas.
Pada tahun 1978 total panjang jalan raya di Cina hanya 89.200 km, dan tahun
2002 meningkat tajam menjadi 170.000 km. Pada tahun 1988 jalan tol pertama
dibuka dengan panjang 185 km, pada tahun 2001 sudah mencapai 19.000 km. Untuk
pelabuhan, setidaknya Cina memiliki 3.800 pelabuhan angkut, 300 diantaranya
dapat menerima kapal berkapasitas 10.000 MT.
Tahun 2001 Cina menghasilkan tenaga listrik 14,78 triliun kwh. Direncankan pada
tahun 2009, Cina bakal mengoperasikan PLTA terbesar di dunia yang menghasilkan
tenaga listik sebesar 84,7 triliun kwh. Sementara saluran telepon (fixed line),
pada tahun 2002 Cina memiliki 207 juta sambungan. Padahal tahun 1989 hanya ada
5,68 juta sambungan.
Sekarang, China telah menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi
melampaui AS dan Jerman. Sekarang China telah menjadi negara pengekspor
teknologi terkemuka. Sekarang China telah menjadi raksasa ekonomi di dunia.
Semua adalah berkat program pemerintah yang direalisasikan, dan bukan hanya
diperbincangkan, dipidatokan, dikoar-korankan, diiklankan, tapi jauh dari
kenyataan.