JAKARTA -- Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) memuji Kepala Kejaksaan Tinggi Sumut (Kajatisu) Sution Usman Adji. Pujian
disampaikan terkait dengan statemen Sution yang menyebut akan menyerahkan pengusutan
kasus dugaan penyelewengan anggaran pos bantuan sosial di APBD Pemprov Sumut ke
KPK.
"Ya bagus kalau diserahkan. Tapi sebenarnya konteksnya koordinasi ya. Dan
selama ini koordinasi dengan Kejati Sumut sudah bagus," ujar Wakil Ketua
KPK Haryono Umar kepada JPNN di Jakarta, kemarin (29/3).
Haryono mengatakan, koordinasi KPK dengan kejatisu sudah dilakukan jauh hari,
ketika mulai pengusutan perkara dugaan korupsi APBD Langkat yang menjerat
Syamsul Arifin. Jika kasus yang baru ini memang ada indikasi kuat terkait lagi
dengan Syamsul, menurut Haryono, memang lebih baik ditangani saja oleh KPK.
"Ya biar kita yang tangani sekalian. Karena toh koordinasi antara penyidik
kita dengan penyidik Kejati Sumut, sudah bagus. Tinggal melanjutkan saja,"
terang Haryono.
Dikatakan Haryono, jika selama ini kasus dugaan penyelewengan dana bansos di
Pemprov Sumut itu sudah pernah ditangani Kejati Sumut, maka itu akan memudahkan
proses pengusutan oleh KPK.
"Karena datanya sudah sedikit matang. Kita tinggal meneruskan saja,"
kata Haryono. Bisa saja, kata Haryono, nanti pola koordinasinya sama dengan
penanganan kasus Langkat. Pentolannya ditangani KPK, yang level anak buah
ditangani Kejati.
Seperti diberitakan, Sution Usman menyebutkan, dugaan korupsi dana bansos
Pemprov Sumut itu ditengarai melibatkan, Syamsul Arifin, Gubernur Sumut
nonaktif yang tersangkut dugaankorupsi APBD Langkat dan sedang ditangani KPK.
“KPK akan mengambil alih penyidikan di Bansos Pempropsu karena banyak bantuan
Bansos Pempropsu yang diduga melibatkan Syamsul Arifin, untuk memulangkan dana
kas Pemkab Langkat,” tegas Kajatisu Sution Usman Adji kepada wartawan, Senin
(28/3).
Seperti dketahui, dalam perkara dugaan korupsi APBD Langkat, Syamsul telah
mengembalikan sekitar Rp64 miliar, dari total kerugian negara berdasar hasil
audit investigasi BPK sebesar Rp102,7 miliar. (sam/jpnn)