Kekayaan adalah
sesuatu yang sangat menarik, dambaan hampir semua orang, namun cara
untuk mendapatkannya berbeda satu dengan yang lain (ada yang baik ada
pula yang buruk), salah satunya dengan cara korupsi yang semakin marak dilakukan. Ada beberapa istilah tentang kekayaan yang sering digunakan awam, ada yang bilang keberadaan, kebercukupan, mampu atau kemewahan. Yang dimaksud kekayaan disini adalah kekayaan materi, bukan kekayaan jiwa.
Kekayaan harta sering mengajarkan kita untuk menjadi materialistis,
menganggap bahwa kekayaan materi adalah segalanya, mendorong orang
untuk berbuat dan bersikap melebihi batas. Secara kasat mata kita dapat
melihat kebanyakan orang yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan
adalah mereka yang terlena dengan kekayaan harta, sehingga mereka lalai
bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan kelak di akhirat.
Banyak contoh menunjukkan bahwa proses kehancuran sebuah komunitas dimulai dari elit masyarakatnya yang berbuat fasiq,
kemudian dengan mudah meluncur, ditiru dan ditularkan kepada
masyarakatnya, yang akhirnya merajalela kemaksiatan yang berakibat pada
kehancuran komunal. Kemudian semakin sulit ditemukan orang-orang yang
mau melarang kemungkaran, hal ini diperparah dengan kehidupan glamour dan berfoya-foya yang semakin menjadi.
Layak
untuk direnungkan, ditengah bangsa yang sedang berjuang meningkatkan
kesejahteraan. Kekayaan bukan hanya untuk dinikmati di dunia ini
semata-mata, namun untuk digunakan pada hal-hal yang bermanfaat bagi
kepentingan umum, untuk membantu sesama yang membutuhkan dan
tujuan-tujuan mulia lainnya, jangan malah dijadikan modal untuk menyombongkan diri, yang pada akhirnya hanya akan mendatangkan bencana dan mencelakakan pemiliknya sendiri.
Dalam persepsi awam, masih banyak orang menganggap harta adalah ukuran kemuliaan,
padahal memiliki sesuatu yang lebih, bukan berarti apa-apa jika tidak
bermanfaat bagi orang lain. Kepemilikan itu bukanlah kepemilikan hakiki,
itu hanya sekedar titipan yang harus dialirkan kepada yang berhak.
Beberapa ilustrasi tentang prilaku buruk dan sikap sombong yang sering
muncul dari para pemilik kekayaan :
- Menganggap dan menjadikan kekayaan sebagai simbol kemuliaan.
- Merasa bangga diri dengan konsumerisme yang berlebihan.
- Mempertontonkan dan pamer kekayaan dihadapan orang miskin.
- Melecehkan dan merendahkan orang-orang miskin.
- Tidak ada niat dan berusaha untuk menolong orang miskin.
- Menyandarkan dan mengklaim semua kekayaan adalah atas hasil kemampuan pribadi.
- Dll.
Hampir
setiap saat prilaku seperti diatas bisa terlihat di sekitar kita,
padahal harta kekayaan pada hakekatnya adalah ujian (apakah kita
bersyukur atau ingkar ?), dan hanyalah cobaan yang harus dipertanggung
jawabkan, bukan kebanggaan yang harus dikejar, ditumpuk dan
disombongkan. (Harlan)
sumber: http://580443.multiply.com/journal/item/106