Oleh : Alim
Umar bin Abdul Aziz, adalah seorang khalifah di masa kekuasaan Bani Umayah yang
terpanggil jiwanya untuk mene gak kan hukum dan keadilan yang telah terpu ruk
karena ulah para pemimpin yang berambisi. Jabatan dianggap suatu kemuliaan
serta dipakai untuk memperkaya diri dan keluarganya, mereke mementingkan ke mewahan yang
hanya sesaat tanpa mem perhitungkan tanggungjawabnya di hada pan Allah
SWT.
Itulah pengaruh nafsu yang membuat manusia ingkar dan serakah serta mem butakan
mata hatinya.
1.
Umar
di Masa Kecil
la dilahirkan di Haiwan, sebuah desa di Mesir pada tahun 64 Hijrah (682 Ma
sehi). Sang ayah bemama Abdul Aziz bin Marwan, adalah seorang gubemur di Mesir.
Sang ibu bemama Ummu Asim, wani ta itu adalah keturunan dari Khalifah U-mar bin
Khattab.
Masa kecil Umar berada di Madinah, sebuah kota Rasul yang termasyhur se bagai
gudang ilmu serta tempat tinggal nya para sahabat, tabiin yang shalih dan alim.
Ketika ayahnya wafat di tahun 86 H (704 Masehi) Umar bin Abdul Aziz genap
berusia 22 tahun. Di tahun itu juga Khali fah Abdul Malik bin Marwan yang masih
pamannya sendiri memanggil pemuda Umar untuk dinikahkan dengan putrinya,
Fatimah. Dua tahun kemudian ia diangkat
seba gai gubernur di Madinah.
2.
Awal
Terjadinya KKN
Setelah masa Khula faur Rasyidin berlalu de
ngan syahidnya Alt bin Abi Thalib Ra. pada ta hun 40 Hijrah dan Muawi yah
diangkat sebagai khalifah. Maka sejak saat itu lah kaurn muslimin diha dapkan
dengan berba gai ujian, hokum dan ke adilan tidak lagi menda pat perhatian
bahkan di sisihkan.
Jika pada masa pe merintahan Khalifah Abu Bakar, Umar, Uts man dan Ali Ra, para
pe jabat pemerintahan did ominasi oleh mereka yang taqwah serta penuh tanggung
jawab, sedangkan pada pemerintahan Bani Umayah keberadaan para pejabat Negara
jadi lain. Mereka diangkat berdasarkan
kepada suka dan tidak suka tanpa melihat kemam puan yang dimilikinya. Dan itu
terbukti ke tika Khalifah Ma’awiyah bin Abi Sufyan me netapkan tradisi baru
dengan mengangkat putra mahkota sebagai calon pengganti nya.
Sedangkan hampir semua orang tahu, bahwa Zaid bin Mu’awiyah bukanlah anak yang
berpendidikan dan berkemampuan. Justru ia terkenal sebagai anak yang suka
meninggalkan shalat, pemabuk serta pem buru kesenangan dunia.
Padahal disana masih banyak para sa habat rasul yang jauh lebih layak menjadi
khalifah. Seperti Hasan bin Alt, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair dan
sebagai nya. Sehingga tidaklah aneh jika
kebijakan baru yang dibawah kepemimpinan Mu’awi yah adalah penuh kedzaliman. Akibatnya setelah Mu’awiyah wafat dan
digantikan oleh putranya, maka ke bobrokan pun terjadi dimana-mana dan jurang
pemisah antara rakyat jelata dan penguasa semakin lebar dan sangat da lam. Para pejabatnya berlomba-lomba memperkaya
diri, meninggalkan ajaran yang telah ada.
3.
Mengalami
Berbagai Krisis
Hampir semua khalifah sesudah Mu’a wiyah tidak
berakhlak mulia, mereka telah menjadi budak nafsu. Dalam pemerinta han Yazid
bin Mu’awiyah telah terjadi pem bantaian terhadap keluarga Rasulullah SAW di
Karbala.
Pembantaian penduduk Madinah di dae rah Masjidil Haram. Di masa pemerinta han
Khalifah Abdul Malik bin Marwan, mun cul seorang panglima yang bengis, berna ma
Hajjaj bin Yusuf.
Pada masa Hisyam terjadi pula pem bantaian terhadap ketunman Alt bin Abi Thalib
beserta para pengikutnya. Begitulah
keberadaan umat Islam pa da masa pemerintahan Bani Umayah. Ke bobrokan
semakin meningkat, korupsi, pembantaian menjadi kebiasaan disana.
Sementara Umar bin Abdul Aziz yang menjabat sebagai gubernur di madinah
memerintah dengan arif bijaksana, sehing ga popularitasnya berkerobang dan
terde ngar dimana-mana.
Pada saat khalifah Sulaiman bin Abdul Malik mendekati ajal. Maka tanpa ragu la
gi untuk menunjuk sepupunya, Umar bin abdul Aziz sebagai pengganti, Umar sa
ngat terkejut, ia merasa tidak tepat uatuk memegang amanah itu. Sehingga dengan
halus serta rendah hati ia menolakjabatan tersebut.
Namun ketika surat wasiat itu dibaca kan, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa
kecuali mengucapkan kalimat tarji’. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun”
Umar sadar, betapa beratnya
memimpin negara Islam yang keadaannya telah rusak seperti itu. Sedangkan
kekuasaannya terben tang begitu luas, dari perbatasan Perancis di
sebelah Barat hingga ke perbatasan India dan Cina di sebelah Timur
4.
Memberantas
KKN
Usai pelantikan sebagai khalifah, Umar bertekad akan memberantas KKN yang telah
menjamur serta menghancurkan ni lai- nilai Islam di negerinya. Untuk mencapai
pemerintahan yang bersih dan berwibawa tidak cukup dengan hanya berbicara saja
atau memberi pena taran kepada bawahan, namun lebih jauh dari itu. Khalifah
Umar bin Abdul Aziz me ngawali dari diri dan keluarganya. Fatimah, puteri
almarhum khalifah Ab dul malik bin Marwan yang juga istrinya segera dipanggil.
Umar menyampaikan isi hatinya:
“Wahai istriku, kita tahu bahwa aya handa
Abdul Malik dahulu pernah membe rikan banyak perhiasan. Tetapi kita juga tahu,
bahwa harta ter sebut sebagian besar dari hasil kedzali man. Untuk itu kanda
hanya memberi dua pilihan kepadamu yang harus diambil salah satu” Mengembalikan semua perhiasan ke kas negara
atau kita ber cerai saja”
Ternyata Fatimah dapat menerima
akan niat baik serta tanggungjawab sua minya yang sangat berat kepada negara,
terutama kepada Allah SWT.
Akhirnya dengan rasa ikhlas wanita itu menyerahkan seluruh perhiasannya untuk
dikembalikan ke Baitui Maal (kas negara). Dan ia lebih memilih untuk men
dampingi sang suami, demikian pula yang dilakukan oleh putra-putrinya. Umar bin
Abdul Aziz sangat menekan pola hidup sederhana, sehingga orang ti dak akan
menjumpai lagi perbedaan anta ra putra khalifah dengan rakyat jelata. la pun membuat kebijaksanaan yang lain dari
khalifah pendahulunya yang suka hidup mewah dan bersenang-senang hingga
menghabiskan uang negara.
Para bangsawan atau pejabat harus mengembalikan semua kekayaan yang didapat
dengan cara yang tidak halal ke pada pemiliknya. Khalifah Umar melakukan pemecatan
besar-besaran kepada para pejabat Nega ra dari pusat hingga daerah yang
terbukti melakukan enyelewengan.
Selanjutnya diganti dengan pejabat baru yang mam pu memberi keteladanan serta
berakhlak mulia dan beragama. Apabila
pada masa khalifah sebelum nya, kas negara sering dipakai untuk ke pentingan
pribadi dan orang-orang terten tu hingga kosong. Sedangkan Khalifah Umar sering
mengosongkan untuk kese jahteraan seluruh rakyatnya.
Aneh kelihatannya, karena di masa Bani Umayah belum pernah terjadi kebija kan
seperti itu. Tetapi pada kenyataannya justru mampu mengatasi pengangguran. Rakyat yang miskin mendapat modal kerja untuk
hidup sejahtera. Sehingga pa da akhirnya pemasukan dari sektor zakat mengalami
peningkatan tajam dan dapat membantu modal usaha kepada fakir mis kin yang
lain.
5.
Diantara
Keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz Ra.
Sufyan Ats Tsauri, salah seorang ula ma besar di masa itu, memasukkan U-mar bin
Abdul Aziz sebagai Khulafaur Ra syidin yang kelima. Dan hal itu tidak ber
lebihan, jika melihat kepribadian Umar yang penuh keteladanan, kemuliaan akh
laknya yang mirip dengan Khalifah Abu Bakar, Umar, Ustman dan Alt Ra.
Meskipun Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari kalangan Bani Umayah yang ter biasa
hidup mewah, namun pada kenya taannya ia lebih suka hidup sederhana. Bahkan
terkenal dengan kezuhudan ser ta kewara’annya. Pernah ada suatu ma lam ketika
Khalifah Umar sedang meme riksa dokumen didalam kamar kerjanya dengan memakai
lampu milik negara, ti ba-tiba sang istri mengetuk pintu. Umar segera mempersilahkan masuk dan bertanya:
“Ada keperluan apa dinda datang kema ri, keperluan pribadi atau negara?”
Tatkala istrinya menjawab bahwa ada urusan pribadi, Umar segera memadam kan
lampu tersebu. Tentu saja wanita itu sangat terkejut atas pebuatan suaminya.
Selanjutnya khalifah memberikan pen jelasan, bahwa dalam urusan pribadi sa ngat
tidak tepat jika memakai lampu yang minyaknya dibeli dengan uang dari kas
negara. Di malam yang lain ketika khalifah sedang menulis, kedatangan seorang
ta mu. Sementara lampu penerangan yang dipakai hampir padam karena kehabisan
minyak.
Melihat hal itu sang tamu segera me minta ijin untuk memperbaiki lampu terse
but, namun khalifah menolaknya.
“Jangan, sangat tidak baik jika seseo
rang memperlakukan tamunya sebagai pe layan. Dan itu bukan akhlak mulia.”
Tamu: “Kalau begitu, biar saya bangun kan
pelayan.”
Khalifah : “Jangan, ia baru saja tidur
karena dari tadi belum merasakan keleza tan bantalnya.”
Khalifah segera mengisi minyak pada lampu tersebut
Tamu : “Wahai aminul mu’minin. Kena pa
anda sendiri yang mengisi minyak ke dalam lamput itu?
Khalifah : “Kenapa ? Kalau saya pergi,
tetap sebagai Umar. Pulang pun tetap Umar, tidak kurang sedikitpun dengan apa
yang saya lakukan tadi, bukan ? Selamanya saya tetap Umar.”
Pada suatu hari datang seseorang de ngan membawa hadiah yang aka diserah kan
kepada Khahfah Umar. Tetapi khalifah menolak, sehingga orang tersebut berta
nya: “Bukankah Nabi dahulu suka meneri ma hadiah?”
Khalifah Umar menjawab dengan sing kat dan tegas: “Hadiah
pada zaman Nabi adalah be nar-benar hadiah, sedangkan pada saat ini adalah bentuk
lain dari suap atau kolusi.”
Suatu hari Khalifah Umar menyuruh pe layannya;
“Kipasilah aku sampai tertidur.”
Si pelayan segera melaksanakan perintah tuannya untuk mengipasinya sampai
tertidur. Dan ketika khalifah ba ngun, ia melihat pelayannya ikut tertidur
karena kelelahan. Melihat hal itu, khalifah Umar segera mengambil kipas
tersebut dan mengipasi pelayannya.
Dan betapa terkejutnya ketika pela yan itu bangun, ia menjerit melihat diri nya
dikipasi oleh seseorang yang sangat dihormati.
Khalifah menenangkan hati pelayan nya: “Kau juga manusia seperti aku dan juga
sama-sama merasakan panas, ma ka aku ingin mengipasimu sebagaimaa engkau
mengipasiku.”
Pemerintahan khalifah Umar bin Ab dul Aziz yang adil dan bijaksana itu sangat
disukai oleh rakyatnya. Tetapi meskipun begitu tidak sedikit yang membencinya,
terutama dari kalangan Bani Umayah yang terbiasa dengan hidup mewah.
Mereka merasa terancam dengan ke bijaksanaan khalifah. Pada suatu hari me reka
menyuap seorang pelayan istana untuk membunuh Khalifah Umar dengan cara
meracuni. Namun usaha tersebut berhasil digagalkan.
http://tabloid_info.sumenep.go.id