Ciptakan Lingkungan Antikorupsi dari Keluarga
Senin, 25 April 2011
Indahnya bila dunia tanpa korupsi.Atau setidaknya, bila negeri ini tanpa
korupsi. Tak ada lagi pungutan liar (pungli) dan tiada pula
ketidakadilan lantaran kemudahan hanya bagi mereka yang berduit.
Keindahan ini bukan tidak
mungkin tercapai.Dan, perempuan mampu memegang peranan besar untuk
mencapainya. Bagaimana? Menurut Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia Dian
Kartika Sari,perempuan dapat mendorong dan menciptakan lingkungan
antikorupsi dimulai dari skala keluarga. “Perempuan bisa mengingatkan,
mendidik,bahkan menciptakan lingkungan yang antikorupsi di keluarganya,
kepada suaminya,kepada anak-anaknya,”tutur Dian dalam sebuah diskusi
bertajuk “Kartini Melawan Korupsi” yang digelar Indonesia Corruption
Watch (ICW) di Depok, Jawa Barat,Sabtu (23/4).
Dian
menuturkan,berbagai persoalan bangsa ini ternyata berujung dari korupsi.
Kekuatan birokrasi dapat mempermainkan kebijakan demi kepentingan pihak
tertentu yang pada akhirnya memperburuk keadaan perempuan. Sementara
itu,peneliti masalah gender dan militer dari Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) Jaleswari Pramodhawardani mengatakan, saat ini kaum
perempuan tak hanya cukup mengkritisi persoalan pendidikan atau
kesehatan tapi juga peduli dengan persoalan-persoalan hukum.“Disadari
atau tidak, problem-problem yang dihadapi perempuan itu sebenarnya
paling besar ada di ranah hukum.Itulah kenapa peran perempuan dalam
melawan korupsi menjadi sangat penting,”tegasnya. Hal senada diungkapkan
petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dotty Rahmatiasi.
Menurut
dia,peran perempuan dalam memberantas korupsi sangat dibutuhkan karena
pendidikan antikorupsi sesungguhnya dimulai dari keluarga.“Orang tua
tentu harus menjadi role modelbagi anak-anaknya dengan mengajarkan
kejujuran,”kata Dotty. Dia menambahkan,setiap anak akan meniru perilaku
orang tuanya.Apa pun sikap orang tua yang dilihat anak akan direkam
dalam memori dan kelak akan diikuti.“Kalau dengan perkataan dan sikap
anak-anak sudah benar-benar ditanamkan agar tidak melakukan korupsi,apa
pun bentuknya dan sekecil apa pun nilainya, generasi bebas korupsi di
Indonesia bukan sekadar mimpi,”pungkasnya. Di tempat terpisah,anggota
Komisi XI DPR Boki Nita Susanti mengungkapkan,perempuan, sebagai tiang
negara, ikut bertanggung jawab atas moralitas bangsa ini.
”Kaum
perempuan adalah penjaga moralitas bangsa. Apabila perempuannya kuat,
kuat pula bangsa ini,” tandasnya. Politikus perempuan dari Fraksi Partai
Demokrat DPR Theresia Pardede (Tere) mengatakan, perempuan perlu
memiliki semangat untuk berkarya dan menunjukkan eksistensinya di
berbagai bidang, termasuk dalam dunia politik. Di sisi lain,anggota
Komisi VIII DPR Inggrid Kansil menyatakan, pihaknya terus mendorong
pemerintah meningkatkan program pemberdayaan perempuan. DYAH AYU
PAMELA/ ADAM PRAWIRA
http://www.seputar-indonesia.com/
Tags:
Titian