Metrotvnews.com, Jakarta: Publik tidak percaya terhadap
komitmen pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam memerangi
korupsi. Strategi pemerintah untuk menutupi kegagalan melalui
pencitraan mengalami kebuntuan.
Kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintahan Presiden Yudhoyono
dalam pemberantasan korupsi mengalami penurunan. Survei isu strategis
yang dilakukan oleh Institute for Strategic and Public Policy Research
(Inspire) menunjukkan bahwa 60 persen responden tidak percaya atas
kesungguhan Presiden Yudhoyono dalam memerangi korupsi.
Survei ini dilakukan terhadap 1.500 responden yang tersebar di 15 kota
besar, yakni Medan, Palembang, Padang, Bandarlampung, Bandung, Semarang,
Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, Banjarmasin, Makassar, Palu, Manado,
Denpasar, dan Kupang. Inspire mengambil 100 responden di masing-masing
kota.
Ketua Peneliti Inspire Marbawi A Katon mengungkapkan rendahnya
kepercayaan publik ini mengejutkan. Sebab, di lain pihak, 39,3 persen
responden meyakini bahwa Presiden Yudhoyono sudah melakukan intervensi
hukum. "Akibatnya, kepercayaan terhadap penegakan hukum secara
keseluruhan juga terpengaruh," ungkapnya dalam jumpa pers di Jakarta,
Ahad (24/4).
Terbukti, kepercayaan publik atas penuntasan mafia pajak dan rekening
gendut polisi juga rendah. Sebanyak 70 persen responden tidak percaya
pemerintah akan optimal melakukan penuntasan mafia pajak. Dan 56,4
persen responden tidak percaya penyelesaian rekening gendut polisi.
Padahal, survei ini menitikberatkan pada tiga pokok pembahasan, yakni
isu strategis, sembilan kebohongan pemerintah, dan Wikileaks. Pengamat
Sosiologi Sosial Politik Universitas Paramadina Abdul Malik Gismar
mengungkapkan ketidakpercayaan publik menunjukkan keresahan terhadap
kepemimpinan nasional dan kinerja pemerintah.
Ia menyebutkan Presiden Yudhoyono tidak mampu mengambil langkah politik
tegas dalam penyelesaian masalah. Terbukti, ketika penyelesaian kinerja
pemerintah terhambat oleh perseteruan politik koalisi, malah tidak ada
tindakan tegas.
"Sekitar 61,1 persen responden menghendaki reshuffle kabinet tetapi
presiden diam saja. Alhasil, kinerja presiden dan kabinet terpisah
dengan keinginan mayoritas masyarakat. Keresahan masyarakat adalah
gangguan politik, bukan ketidakmampuan," jelasnya.
Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Nico
Harjanto menambahkan kini pemerintah berupaya menutup kelemahan ini
melalui pencitraan. Namun, rakyat sudah cukup cerdas untuk melihat aspek
di balik pencitraan ini. Alhasil, pencitraan pun menemui kebuntuan.
"Politik pencitraan mengalami kegagalan. Namun, bukan karena kegagalan
konsultan pencitraan sendiri melainkan karena faktor kepemimpinan yang
tak menyediakan penyelesaian," tandasnya.(MI/BEY)